Jumat, 26 Desember 2008


Pagi ini sebelum mentari terbit dari timur, aku bangun dan hendak mempersiapkan diri ke rumah sakit, dimana sudah ada dalam perencanaan aku, mama, dan dokter yang hendak menangani ku nantinya di rumah sakit. 

Tak disangka waktu begitu cepat ku pikir masih dalam perjalanan ternyata aku sudah di area rumah sakit, dan harus segera turun dari mobil, padahal posisiku saat itu nganuk berat. 

Akhirnya, aku numpang tidur dulu sambil menunggu mamaku selesai laporan pagi. Padahal, aku masih ngantuk sekali seakan males banget untuk rawat inap. Yah, mau tak mau dengan mata setengah tertutup aku sambil ikut mama berjalan dengan kecepatan yang maksimal menuju bagian administrasi. Eh, sesampainya disana aku disuruh mengisi form, aduh yang bener aja, orang lagi ngantuk begini. Tapi akhirnya mama juga yang mengisi, tapi baru sebentar mama langsung menyuruhku ke ruangan lagi untuk mengambil KTP, yang bener aja nih, ah cape deh. Ya mau tak mau aku melaksanakan juga. 

Sesudah aku mengantarkan kembali ke administrasi, kami segera menuju ke kamar rawat di Lidwina. Tepatnya, Lantai 5 ruang 502 bed 3. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Mulai dari observasi, sarapan, ambil darah, periksa dokter, ambil urine, sampai akhirnya pasang infuse sekitar jam 10.55. Eh, kupikir sudah selesai ternyata masih ada periksa tensi ulang dan ukur panas.

Selama di RS, ku pikir aku bisa lebih santai dan membuang kepenatan selama ini, ternyata tidak juga karena sering sekali terlintas beberapa sosok wajah dan peristiwa yang membuat hatiku selalu sedih, namun memaksakan diri tuk tetap tegar. Aku teringat dengan Natal tahun lalu. Dari setiap Natal yang ku lalui, baru tahun lalu aku dibuat menangis, awalnya aku menahan kesedihan sewaktu membawakan lagu pujian “JalanMu tak terselami/Oleh setiap hati kami/ Namun satuhal ku percaya/ Ada rencana yang indah/ Tiada terduga kasihMu/ Heran dan benar jalanMu/ Arti kehadiranMu s’lalu/ Nyata di dalam hidupku/ PenyertaanMu sempurna /RancanganMu p’nuh damai / Aman dan sejahtera walau ditelan badai/ Inginku slalu bersama/ Rasakan keindahan / Arti kehadiranMu Tuhan” di depan Jemaat apalagi bila menatapi wajah teman yang kukasihi, yang akan ku tinggalkan. Namun, akhirnya air mata yang tak tertahankan menetes juga saat aku selesai menyanyikan lagu. Betapa tidak, ternyata persembahan pujian selanjutnya datang dari teman-teman pemuda dengan “SENTUH HATIKU”. Aku selalu dalam posisi Netral, karena aku benar-benar tak mengerti mengapa kami tak bisa sejalan lagi seperti dulu. Aku sayang mereka semua, malah aku rela mengajak, merayu, sampai rela mengeluarkan duit untuk menghubungi teman2 untuk latihan seperti awal kami dipertemukan. Tapi mereka selalu mengatakan beberapa alasan, sangking pengennya aku merayu beberapa pria terdekatku untuk nyanyi bersama seperti dulu, ”Anggap aja lo sudah ngasih hadiah untuk gw, gw cuma minta kita bisa nyanyi sama-sama seperti dulu kok. Sekali ini aja deh….. (sampai suasana di telpon diam dan Erick pun mulai bertanya, tes… tes… tessa… mungkin dia juga gak tau klo saat itu gw bener2 lagi nangis.) Kecewa banget gw. Karena dari teman yang aku pikir paling santai dan tidak pernah mau cari ribut, ternyata tidak dapat aku luluhkan hatinya untuk berdamai. Aku benar2 bingung, antara penuhi janji untuk tinggalkan mereka, atau selesaikan dulu. Tapi dari saran beberapa teman yang berpendapat bahwa aku harus terus maju, dan gak masalah bila ditinggalkan.

Dan peristiwa itulah yang membuatku tidak tenang dan terus merasa bersalah dengan apa yang terjadi, meski teman-teman berkata, “Biarlah, toh kita semua sudah dewasa, masak kita yang sudah berteman lama sekali gak ngerti sih dengan teman-teman yang sedang dihadapinya, apalagi sudah pada Sarjana, harusnya bisa dong memaklumi teman yang pendidikannya tidak tinggi. Gw tau klo lo sayang sama mereka, tapi klo tetap memaksakan disini ternyata gak bisa membuat lo berkembang, gak ada salahnya klo lo coba dulu adaptasi dilingkungan yang baru. Toh, kita masih bisa saling cerita, klo gak bisa ketemu kan bisa telpon. Kasian lo, umur lo masih muda, lo juga harus buka hati untuk yang lain. Lo mesti inget, yang penting lo sudah usaha mendamaikan mereka semua, tapi biarlah Tuhan yang menyatukan mereka dengan caraNya yang tak pernah kita mengerti. Biar Tuhan yang sentuh hati mereka, jadi mereka gak asal nyanyi.”

Saat ini masih terlintas bahwa aku belum sempat ucapkan terimakasih untuk kebaikan yang sudah mereka berikan untukku.

Love u all. 
I really miss u, and miss u bro, too.
I always be ur best little sister..

Seandainya kalian tau, bahwa orang yang aku harapkan kedatangannya ke rumah sakit untuk menjengukku adalah kamu… dan kalian semua… Tapi ternyata hanya K Q2 yang datang, entah setiap melihat pohon Natal pasti selalu terlintas wajah kalian betapa kompaknya kita dekorasi Natal setiap tahun. Aku rindu saat-saat itu. Untuk ^K2^ maaf aku tak berani angkat telpon dr K2 yang beberapa kali berdering, karena saat K2 telpon aku benar2 sedang memikirkan K2 dan sedih, aku tak mau K2 tau. Maaf juga klo aku belum sempat ucapkan selamat Natal, padahal aku belum tidur saat menerima sms darimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar