Selasa, 02 Desember 2008

Apa kata Andy F Noya "host KICK ANDY"

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di 
kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah 
berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang 
memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk 
tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. 

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada 
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada 
pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. 

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke 
hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika 
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak 
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. 
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya 
terlalu asyik menyantap makanan. 

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak 
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan 
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa 
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, 
pemandangan tersebut menjadi istimewa. 

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang 
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru 
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang 
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik 
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas 
makanan. 

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas 
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. 
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh 
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. 

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. 
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah 
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan 
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang 
pelayan sekalipun. 

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa 
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta 
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya 
juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan 
tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan 
pernah 
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, 
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. 
Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal. 

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. 
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa 
menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, 
artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran. 

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti 
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk 
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. 
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya 
membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang 
sampah di situ. 

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak 
itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. 
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, 
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan 
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar. 

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap 
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya 
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan 
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. 
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. 
Padahal 
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum. 

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap 
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di 
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan 
merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia 
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus 
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya 
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. 

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang 
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda 
puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada 
orang-orang di sekitarnya. 

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata 
"terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang 
kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang 
akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita 
meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita. 

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, 
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari 
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir 
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu 
kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari 
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada 
kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat 
nasihat istri tersebut. 

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat 
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada 
perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang 
sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan 
pelayan restoran. 

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, 
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang 
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal 
karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet. 

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di 
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka 
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga 
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang 
yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di 
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. 

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak 
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari 
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang 
juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar